UNICEF:
Lihat Anaknya, Bukan Disabilitasnya
Meskipun ada kemajuan,
inklusi sepenuhnya bagi anak-anak penyandang disabilitas di Indonesia masih
terhambat.
Jakarta, 30 Mei 2013 -
Anak-anak penyandang disabilitas maupun masyarakat sekitarnya akan mendapatkan
manfaat yang baik, jika kita semua berfokus pada apa yang dapat mereka capai,
daripada apa yang mereka tidak bisa lakukan, menurut laporan tahunan UNICEF –
Situasi Anak di Dunia.
Berfokus pada kemampuan
dan potensi anak-anak penyandang disabilitas akan memberikan manfaat bagi
masyarakat secara menyeluruh, menurut laporan tersebut.
"Ketika Anda
melihat disabilitasnya, dan bukan anaknya, bukan hanya akan keliru bagi sang anak,
tetapi masyarakat pun tidak akan memperoleh semua yang dapat ditawarkan oleh
anak tersebut," kata Direktur Eksekutif UNICEF Anthony Lake.
"Kerugian mereka adalah kerugian bagi masyarakat; manfaat mereka adalah
manfaat bagi masyarakat."
Laporan ini memaparkan
bagaimana masyarakat dapat mengikutsertakan anak penyandang disabilitas, karena
ketika mereka berperan penuh dalam masyarakat, semua orang juga akan
mendapatkan manfaatnya. Misalnya, pendidikan inklusif dapat memperluas
cakrawala semua anak, dan juga memberikan peluang bagi anak-anak penyandang
disabilitas untuk memenuhi ambisi mereka.
Lebih banyak upaya yang
mendukung integrasi anak penyandang disabilitas akan membantu mengatasi
diskriminasi dan mencegah mereka terdorong lebih jauh ke pinggiran masyarakat.
Indonesia sudah
berinvestasi dalam memperkuat kerangka hukum dan meningkatkan kesempatan bagi
anak penyandang disabilitas agar mereka dapat tumbuh dan mengembangkan potensi
mereka. Namun, masih banyak yang harus
dilakukan.
“Terkadang, keluarga dan
masyarakat masih malu jika anak mereka mempunyai disabilitas. Anak-anak ini seringkali dikurung, dikucilkan
dari sekolah dan masyarakat daripada didukung,” kata Angela Kearney, Kepala Perwakilan
UNICEF di Indonesia.
Bagi banyak anak-anak
penyandang disabilitas, pengecualian dimulai pada hari-hari pertama kehidupan
mereka, dengan kelahiran yang tidak didaftarkan. Dengan tidak adanya pengakuan
resmi, mereka terputus dari layanan sosial dan perlindungan hukum yang penting
untuk kelangsungan hidup mereka. Marjinalisasi mereka juga meningkat dengan
adanya diskriminasi.
"Agar anak-anak
penyandang disabilitas diperhatikan, mereka harus dihitung - saat lahir, di
sekolah dan dalam kehidupan," kata Anthony Lake.
Laporan Situasi Anak di
Dunia 2013: Anak Penyandang Disabilitas mengatakan bahwa anak-anak penyandang
disabilitas adalah mereka yang sering kali tidak mendapatkan perawatan
kesehatan atau bersekolah. Mereka adalah yang paling rentan mengalami
kekerasan, pelecehan, eksploitasi dan penelantaran, terutama jika mereka
tersembunyi atau ditempatkan dalam lembaga - seperti banyak dari mereka karena
stigma sosial atau biaya ekonomi untuk membesarkannya.
Anak-anak penyandang
disabilitas adalah mereka yang paling terpinggirkan di dunia. Anak-anak yang hidup dalam kemiskinan
cenderung tidak bersekolah, atau mengunjungi klinik kesehatan, tapi mereka yang
hidup dalam kemiskinan, sekaligus memiliki disabilitas, akan lebih cenderung
seperti itu.
Jender merupakan faktor
kunci, perempuan penyandang disabilitas cenderung tidak mendapatkan makanan dan
perawatan dibanding laki-laki.
"Diskriminasi atas
dasar disabilitas adalah bentuk penindasan," menurut laporan
tersebut. Laporan juga mengatakan bahwa
berbagai kekurangan menyebabkan eksklusi yang lebih besar bagi banyak anak-anak
penyandang disabilitas.
Data akurat mengenai
jumlah anak penyandang disabilitas, disabilitas apa yang dimiliki, dan
bagaimana disabilitas tersebut mempengaruhi kehidupan mereka masih sangat
terbatas. Akibatnya hanya sedikit dari pemerintah di dunia yang memiliki
panduan yang dapat menjadi acuan untuk mengalokasikan sumber daya untuk
mendukung dan membantu anak-anak penyandang disabilitas dan keluarga mereka.
Anak
penyandang disabilitas di Indonesia
Hal yang sama juga
terjadi untuk Indonesia. Menurut RISKESDAS 2007, sekitar 4 persen dari anak
usia 15 sampai 19 tahun mengalami kesulitan yang signifikan pada setidaknya
satu domain fungsional (penglihatan, pendengaran, berjalan, berkonsentrasi dan
memahami orang lain serta perawatan diri) dan oleh karena itu dianggap sebagai
hidup dengan disabilitas. Sensus 2010 menemukan bahwa sekitar 2 persen dari
anak usia 0 sampai 14 tahun memiliki disabilitas. Dua persen dari semua anak
usia 0 sampai 18 di Indonesia berjumlah sekitar 1,5 juta anak, empat persen
dari jumlah semua anak akan meningkatkan jumlah total sekitar 3 juta anak-anak
dan remaja yang hidup dengan disabilitas.
Apa
yang harus dilakukan – Agenda UNICEF
Kemajuan sudah ada
untuk inklusi anak penyandang disabilitas, meskipun tidak merata, dan laporan
Situasi Anak di Dunia 2013 menyiapkan agenda untuk tindakan selanjutnya.
Sekitar sepertiga dari
negara-negara di dunia sejauh ini gagal untuk meratifikasi Konvensi Hak
Penyandang Disabilitas. Laporan ini mendesak semua pemerintah untuk
meratifikasi dan melaksanakan Konvensi Hak Penyandang Disabilitas dan Konvensi
Hak Anak, dan mendukung keluarga agar dapat memenuhi biaya perawatan anak
penyandang disabilitas yang lebih tinggi.
Indonesia
menandatangani Konvensi pada tahun 2007 dan meratifikasinya pada tahun 2011.
Namun, pemerintah belum meratifikasi Protokol Opsional terkait, yang
memperkenalkan mekanisme pengaduan individu.
"Kami meminta
Pemerintah Indonesia untuk menandatangani Protokol Opsional dan untuk lebih
memperkuat hak-hak anak penyandang disabilitas. UNICEF siap mendukung
pemerintah dalam mengembangkan Rencana Aksi yang baru bagi Penyandang
disabilitas, setelah program yang saat ini berakhir pada akhir tahun 2013. Kami
juga berharap bahwa Rencana Aksi yang baru akan terintegrasi ke dalam Rencana
Pembangunan Nasional baru Jangka Menengah (RPJMN),” kata Angela Kearney.
Laporan Situasi Anak di
Dunia 2013 mengajak untuk bertindak melawan diskriminasi di kalangan masyarakat
umum, pembuat keputusan dan penyedia layanan penting seperti pendidikan dan
kesehatan.
Badan-badan
internasional harus memastikan dukungan dan bantuan yang mereka berikan kepada
negara konsisten dengan Konvensi Hak Anak dan Konvensi Hak-Hak Penyandang
Disabilitas. Mereka harus mempromosikan agenda penelitian global bersama
tentang disabilitas untuk menghasilkan data dan analisis yang akan memandu
perencanaan dan alokasi sumber daya, menurut laporan ini.
Ini menekankan
pentingnya melibatkan anak-anak dan remaja penyandang disabilitas melalui
konsultasi dengan mereka dalam mendesain dan dan mengevaluasi program dan
layanan bagi mereka.
Dan semua orang akan
mendapatkan manfaatnya ketika pendekatan inklusif memasukkan aksesibilitas dan
desain universal lingkungan untuk digunakan oleh semua semaksimal mungkin tanpa
perlu adaptasi.
"Jalan ke depan
masih penuh tantangan," kata Anthony Lake, "Tapi anak-anak tidak
dapat menerima batasan yang tidak perlu. Begitu juga dengan kita."
#
# #
Untuk membaca The State
of the World’s Children 2013: Children with Disabilities dan melihat materi
multimedia tambahan, silakan kunjungi:
http://weshare.unicef.org/C.aspx?VP3=SearchResult&PSID=2AM4GJKZZUU&IT=Thumb_Grid_M_Details_NoToolTip
Tidak ada komentar:
Posting Komentar