Rabu, 04 Juni 2014

KITA DALAM SUATU MASA... SPS PLS ’13 adalah KELUARGA.. (Part 2)

Demam PAPARAZI

Cekrek.. cekrek.. biasanya kalau kita sadar suara kamera seperti itu pasti akan bergaya sebagus mungkin alias Narsis.. tapi apa jadinya kalau foto itu di ambil oleh seseorang tanpa kita sadari... aahhh.. coba bayangkan gimana hasil jepretannya???... dan kita sadar dipotret diam-diam setelah foto tersebut di share di dalam GrouP.. yaaa.. yang tak lain dan tak bukan di dalam group WhatsApp “Hot Nyus PLS S2 UPI 2013” dan disertai komentar dari semua anggota group dengan berbagai gaya dan ekspresi.. seperti.. “ciiieciie” atau “WooWW” atau “aku siH iYes” atau “hahahahahaha” dan lain lain.. (coba di inget inget lagi.. hahaha) dan hampir semua anggota Group menjadi Korban. (:

Menurut Wikipedia.com, istilah Paparazzi diartikan sebagai seorang fotografer yang mengambil foto orang lain secara diam-diam. Berikut ini ada beberapa foto yang diambil diam-diam oleh teman-teman saya yang usilnya minta ammpuun... -_-

>>> Ini terjadi ketika kegiatan perkuliahan, saat nunggu dosen maupun saat kelar kuliah dan kumpul bareng.. berbagai tingkahlaku aneh yang keliatan lucu dan ekspresi yang WoWW (o_0) yang berhasil di tangkap oleh paparazi-paparazi kelas yang tidak bisa disebutkan satu persatu..
Seperti apa foto-foto selebritis S2 PLS 2013 yang diambil secara diam-diam...

Let’s Check it ouT... :D

Tereeeeng teereeeengg>>>> (suara Music..))

>>>Don't judge people from the pictures.. Heehee :p <<<<




 Teman-teman..... ingatkah kalian kapan foto-foto ini di ambil dan siapa Paparazinya????
(tanyakanlah pada rumput yang bergoyang atau pada bulan,, haha)

Bagaimana perasaan Kalian melihat foto-foto ini ??
(tertawakah??, Sedihkah??, Marahkah?? atau Terharu??)

Niat saya cuma satu,,, hanya ingin mengukir kenangan bersama keluarga S2 PLS 2013 di UPI :)
SomeDay.... berharap foto-foto paparazi ini dapat membuat kita tertawa 
disela kesibukan kita masing-masing.. \(^_^) /




Bersambung.......

Selasa, 03 Juni 2014

UNICEF: Lihat Anaknya, Bukan Disabilitasnya



Meskipun ada kemajuan, inklusi sepenuhnya bagi anak-anak penyandang disabilitas di Indonesia masih terhambat.
Jakarta, 30 Mei 2013 - Anak-anak penyandang disabilitas maupun masyarakat sekitarnya akan mendapatkan manfaat yang baik, jika kita semua berfokus pada apa yang dapat mereka capai, daripada apa yang mereka tidak bisa lakukan, menurut laporan tahunan UNICEF – Situasi Anak di Dunia.
Berfokus pada kemampuan dan potensi anak-anak penyandang disabilitas akan memberikan manfaat bagi masyarakat secara menyeluruh, menurut laporan tersebut.
"Ketika Anda melihat disabilitasnya, dan bukan anaknya, bukan hanya akan keliru bagi sang anak, tetapi masyarakat pun tidak akan memperoleh semua yang dapat ditawarkan oleh anak tersebut," kata Direktur Eksekutif UNICEF Anthony Lake. "Kerugian mereka adalah kerugian bagi masyarakat; manfaat mereka adalah manfaat bagi masyarakat."
Laporan ini memaparkan bagaimana masyarakat dapat mengikutsertakan anak penyandang disabilitas, karena ketika mereka berperan penuh dalam masyarakat, semua orang juga akan mendapatkan manfaatnya. Misalnya, pendidikan inklusif dapat memperluas cakrawala semua anak, dan juga memberikan peluang bagi anak-anak penyandang disabilitas untuk memenuhi ambisi mereka.
Lebih banyak upaya yang mendukung integrasi anak penyandang disabilitas akan membantu mengatasi diskriminasi dan mencegah mereka terdorong lebih jauh ke pinggiran masyarakat.
Indonesia sudah berinvestasi dalam memperkuat kerangka hukum dan meningkatkan kesempatan bagi anak penyandang disabilitas agar mereka dapat tumbuh dan mengembangkan potensi mereka.  Namun, masih banyak yang harus dilakukan.
“Terkadang, keluarga dan masyarakat masih malu jika anak mereka mempunyai disabilitas.  Anak-anak ini seringkali dikurung, dikucilkan dari sekolah dan masyarakat daripada didukung,” kata Angela Kearney, Kepala Perwakilan UNICEF di Indonesia.
Bagi banyak anak-anak penyandang disabilitas, pengecualian dimulai pada hari-hari pertama kehidupan mereka, dengan kelahiran yang tidak didaftarkan. Dengan tidak adanya pengakuan resmi, mereka terputus dari layanan sosial dan perlindungan hukum yang penting untuk kelangsungan hidup mereka. Marjinalisasi mereka juga meningkat dengan adanya diskriminasi.
"Agar anak-anak penyandang disabilitas diperhatikan, mereka harus dihitung - saat lahir, di sekolah dan dalam kehidupan," kata Anthony Lake.
Laporan Situasi Anak di Dunia 2013: Anak Penyandang Disabilitas mengatakan bahwa anak-anak penyandang disabilitas adalah mereka yang sering kali tidak mendapatkan perawatan kesehatan atau bersekolah. Mereka adalah yang paling rentan mengalami kekerasan, pelecehan, eksploitasi dan penelantaran, terutama jika mereka tersembunyi atau ditempatkan dalam lembaga - seperti banyak dari mereka karena stigma sosial atau biaya ekonomi untuk membesarkannya.
Anak-anak penyandang disabilitas adalah mereka yang paling terpinggirkan di dunia.  Anak-anak yang hidup dalam kemiskinan cenderung tidak bersekolah, atau mengunjungi klinik kesehatan, tapi mereka yang hidup dalam kemiskinan, sekaligus memiliki disabilitas, akan lebih cenderung seperti itu.
Jender merupakan faktor kunci, perempuan penyandang disabilitas cenderung tidak mendapatkan makanan dan perawatan dibanding laki-laki.
"Diskriminasi atas dasar disabilitas adalah bentuk penindasan," menurut laporan tersebut.  Laporan juga mengatakan bahwa berbagai kekurangan menyebabkan eksklusi yang lebih besar bagi banyak anak-anak penyandang disabilitas.
Data akurat mengenai jumlah anak penyandang disabilitas, disabilitas apa yang dimiliki, dan bagaimana disabilitas tersebut mempengaruhi kehidupan mereka masih sangat terbatas. Akibatnya hanya sedikit dari pemerintah di dunia yang memiliki panduan yang dapat menjadi acuan untuk mengalokasikan sumber daya untuk mendukung dan membantu anak-anak penyandang disabilitas dan keluarga mereka.

Anak penyandang disabilitas di Indonesia
Hal yang sama juga terjadi untuk Indonesia. Menurut RISKESDAS 2007, sekitar 4 persen dari anak usia 15 sampai 19 tahun mengalami kesulitan yang signifikan pada setidaknya satu domain fungsional (penglihatan, pendengaran, berjalan, berkonsentrasi dan memahami orang lain serta perawatan diri) dan oleh karena itu dianggap sebagai hidup dengan disabilitas. Sensus 2010 menemukan bahwa sekitar 2 persen dari anak usia 0 sampai 14 tahun memiliki disabilitas. Dua persen dari semua anak usia 0 sampai 18 di Indonesia berjumlah sekitar 1,5 juta anak, empat persen dari jumlah semua anak akan meningkatkan jumlah total sekitar 3 juta anak-anak dan remaja yang hidup dengan disabilitas.

Apa yang harus dilakukan – Agenda UNICEF
Kemajuan sudah ada untuk inklusi anak penyandang disabilitas, meskipun tidak merata, dan laporan Situasi Anak di Dunia 2013 menyiapkan agenda untuk tindakan selanjutnya.
Sekitar sepertiga dari negara-negara di dunia sejauh ini gagal untuk meratifikasi Konvensi Hak Penyandang Disabilitas. Laporan ini mendesak semua pemerintah untuk meratifikasi dan melaksanakan Konvensi Hak Penyandang Disabilitas dan Konvensi Hak Anak, dan mendukung keluarga agar dapat memenuhi biaya perawatan anak penyandang disabilitas yang lebih tinggi.
Indonesia menandatangani Konvensi pada tahun 2007 dan meratifikasinya pada tahun 2011. Namun, pemerintah belum meratifikasi Protokol Opsional terkait, yang memperkenalkan mekanisme pengaduan individu.
"Kami meminta Pemerintah Indonesia untuk menandatangani Protokol Opsional dan untuk lebih memperkuat hak-hak anak penyandang disabilitas. UNICEF siap mendukung pemerintah dalam mengembangkan Rencana Aksi yang baru bagi Penyandang disabilitas, setelah program yang saat ini berakhir pada akhir tahun 2013. Kami juga berharap bahwa Rencana Aksi yang baru akan terintegrasi ke dalam Rencana Pembangunan Nasional baru Jangka Menengah (RPJMN),” kata Angela Kearney.
Laporan Situasi Anak di Dunia 2013 mengajak untuk bertindak melawan diskriminasi di kalangan masyarakat umum, pembuat keputusan dan penyedia layanan penting seperti pendidikan dan kesehatan.
Badan-badan internasional harus memastikan dukungan dan bantuan yang mereka berikan kepada negara konsisten dengan Konvensi Hak Anak dan Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas. Mereka harus mempromosikan agenda penelitian global bersama tentang disabilitas untuk menghasilkan data dan analisis yang akan memandu perencanaan dan alokasi sumber daya, menurut laporan ini.
Ini menekankan pentingnya melibatkan anak-anak dan remaja penyandang disabilitas melalui konsultasi dengan mereka dalam mendesain dan dan mengevaluasi program dan layanan bagi mereka.
Dan semua orang akan mendapatkan manfaatnya ketika pendekatan inklusif memasukkan aksesibilitas dan desain universal lingkungan untuk digunakan oleh semua semaksimal mungkin tanpa perlu adaptasi.
"Jalan ke depan masih penuh tantangan," kata Anthony Lake, "Tapi anak-anak tidak dapat menerima batasan yang tidak perlu. Begitu juga dengan kita."
# # #

Untuk membaca The State of the World’s Children 2013: Children with Disabilities dan melihat materi multimedia tambahan, silakan kunjungi:
http://weshare.unicef.org/C.aspx?VP3=SearchResult&PSID=2AM4GJKZZUU&IT=Thumb_Grid_M_Details_NoToolTip

Senin, 02 Juni 2014

Pendidikan Anak Sejatinya Dimulai Sejak Memilih Jodoh

Malam itu, Umar bin Khattab kembali berkeliling melihat kondisi rakyatnya. Sengaja, selain bertemu dan melayani rakyatnya di siang hari, Umar bin Khattab juga memanfaatkan waktu malam agar ‘inspeksi’-nya tidak diketahui oleh orang lain. Dengan demikian, ia dapat melihat sisi lain kehidupan rakyatnya.
Tiba di dekat sebuah rumah, Umar bin Khattab mendengar dialog yang menyentuh jiwanya. “Campur saja susu itu dengan air, Nak. Orang lain melakukan seperti itu,” suara perempuan tua terdengar dari rumah itu.
“Amirul mukminin melarang itu, Bu” sang anak menolak dengan halus. Suaranya menggambarkan takdzim pada sang ibu.
“Amirul mukminin tidak akan tahu”
“Tapi Allah Maha Mengetahui, Bu”
Allahu akbar. Mendengar hal itu, Umar bin Khattab terenyuh. Hatinya tersentuh. Ada seorang gadis yang memiliki keimanan begitu tinggi.
Esoknya, Umar bin Khattab memerintahkan putranya untuk menikah dengan gadis itu. Dari pernikahan keduanya, kelak lahirlah keturunan shalih yang memiliki banyak kemiripan dengan Umar bin Khattab. Dialah Umar bin Abdul Aziz; khalifah yang hanya dalam masa 2,5 tahun berhasil mengubah maknawiyah dan kesejahteraan rakyatnya hingga tidak ada yang mau menerima zakat.
***
Suatu hari, seorang pemuda menemukan buah delima terbawa arus sungai. Dalam kondisi lapar yang menderanya saat itu, ia pun memakannya. Tiba-tiba ia sadar, buah itu milik siapa hingga ia berani memakannya? Ia pun menelusuri asal buah itu dan setelah menemukan pohonnya, ia menemui pemiliknya.
“Aku minta kehalalan buah yang telah kumakan tersebut,” pintanya, membuat sang pemilik kagum dengan kepribadiannya.
“Baiklah, aku akan menghalalkan buah itu dengan syarat kau mau menikahi putriku”
“Baiklah”
“Perlu kau ketahui, bahwa putriku itu buta, tuli dan bisu. Kau bersedia?”
Sungguh aneh, demi mendapatkan kehalalan buah yang telah dimakannya, sang pemuda tak membutuhkan waktu lama untuk mengiyakan. “Insya-allah, Pak” jawabnya mantap.
Tibalah hari pernikahan itu. Dan betapa kagetnya sang pemuda, gadis yang dinikahinya ternyata sangat cantik, tidak buta, tidak bisu dan tidak tuli. Saat ia menanyakan kembali kepada pria yang kini jadi mertuanya, ia mendapatkan jawaban: “Putriku buta, maksudnya matanya tidak pernah melihat maksiat. Ia bisu, maksudnya tidak pernah berbicara dusta, tidak pula pernah ghibah. Dan ia tuli, karena telinganya tidak pernah mendengar bunyi dan suara yang diharamkan.”
Allahu akbar! Pernikahan keduanya pun menjadi pernikahan barakah. Dari keduanya, kelak lahirlah seorang ulama besar yang hingga kini namanya tetap abadi dan ijtihadnya terus diikuti; Imam Syafi’i.
***
Dalam Islam, pendidikan anak sejatinya dimulai sejak memilih jodoh. Sebab, dari rahim sang ibulah anak lahir. Dari hubungan suami dan istrilah sang ibu mengandung.
Karenanya Rasulullah menasehati para pemuda untuk memilih istri atas dasar agamanya. “fadhhar bidzaatid diin, taribat yadaak; pilihlah wanita yang baik agamanya agar kalian beruntung.” Keberuntungan di sini bukan hanya soal rumah tangga mereka, cinta kasih mereka, kehidupan pernikahan mereka, tetapi juga keturunan mereka.
Bagaimana dengan muslimah, Saudariku? Muslimah juga sama, dinasehati agar memilih jodoh yang baik agamanya, mulia akhlaknya. Karenanya Rasulullah berpesan kepada para orangtua, jika ada lelaki shalih yang melamar anaknya, agar ia diterima.
Memilih jodoh adalah langkah pertama dalam pendidikan anak. Sebab lelaki shalih dan wanita shalihah yang telah menjadi suami istri, mereka akan menjaga adab Islam. Saat merencanakan dan berikhtiar memiliki anak, mereka niatnya mulia. Saat beraktifitas yang mengundang lahirnya keturunan, mereka berdoa dan memenuhi adab-adabnya sehingga kelak anaknya tidak mudah diganggu/digoda syetan. Suami yang shalih menafkahi istri dengan nafkah halal. Halal pula yang dikonsumsi janinnya. Ketika anak sejak di dalam kandungan hingga lahir menjadi bayi dan seterusnya hanya mengkonsumsi yang halal, insya-allah ia lebih mudah menjadi anak yang shalih. Lebih mudah dididik dengan akhlak Islam.
Seperti apa engkau nanti mengasihi dan memperlakukan janinmu saat hamil juga dipengaruhi oleh laki-laki model apa yang menjadi suamimu. Jika ia shalih dan penyayang, ia pun menyayangimu dan janinmu. Mendukungmu membaca Qur’an untuk calon bayi dalam kandungan, bahkan ia pun turut tilawah sambil memegang perutmu. Hingga kelahiran tiba dan hidup di alam nyata, bayi dan anak-anaknya pun terbiasa dengan Al Qur’an, daripada musik dan nyanyian yang tidak jelas.
Saudariku, begitu banyak penjelasan yang bisa kau kembangkan atau kita lanjutkan di lain waktu. Bahwa pendidikan anak sejatinya dimulai sejak kita memilih jodoh.

http://webmuslimah.com/pendidikan-anak-sejatinya-dimulai-sejak-memilih-jodoh/


(my Hope: Ya Allah pertemukanlah hamba dengan Seorang laki-laki pilihan TerbaikMu yang mencintaiku selamanya, menjadi imam di keluarga serta menjaga aku dan anak-anakku kelak) aamiin....