Selasa, 01 Oktober 2013

mental KU mental BAJA..!!!

Palu Menghancurkan Kaca, Tetapi Palu Membentuk Baja.
Apa makna dari pepatah kuno diatas?
Jika jiwa kita rapuh seperti kaca, maka ketika palu/masalah menghantam, kita akan mudah putus asa, frustasi, kecewa, marah, dan jadi remuk redam. Jika kita adalah kaca, maka kita juga rentan terhadap benturan. Kita mudah tersinggung, kecewa, marah, atau sakit hati saat kita berhubungan dengan orang lain. Sedikit benturan sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan hubungan kita.
Jangan pernah jadi kaca, tapi jadilah baja. “Mental baja” adalah mental yang selalu positif, bahkan tetap bersyukur di saat masalah dan keadaan yang benar-benar sulit tengah menghimpitnya.
Mengapa demikian? Orang yang seperti ini selalu menganggap bahwa “masalah adalah proses kehidupan untuk membentuknya menjadi lebih baik”. Sepotong besi baja akan menjadi sebuah alat yang lebih berguna setelah lebih dulu diproses dan dibentuk dengan palu. Setiap pukulan memang menyakitkan, namun mereka yang bermental baja selalu menyadari bahwa itu baik untuk dirinya.
Jika hari ini kita sedang ditindas oleh masalah hidup, jangan pernah merespons dengan sikap yang keliru!
Jika kita adalah “baja”, kita akan selalu melihat palu yang menghantam kita sebagai sahabat yang akan membentuk kita. Sebaliknya jika kita “kaca” maka kita akan selalu melihat palu sebagai musuh yang akan menghancurkan kita.

KETIKA aku sudah tua...

Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula.
Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku.
Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.
Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.
Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.
Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku.
Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?
Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tekhnologi dan hal-hal baru, jangan mengejekku.
Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap “mengapa” darimu.
Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku.
Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.
Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat.
Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.
Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka.
Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan.
Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.
Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur
Dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.

AKU ingin membeli waktu AYAH....

Pada suatu hari, seorang Ayah pulang dari bekerja pukul  21.00 malam. Seperti hari-hari sebelumnya, hari itu  sangat melelahkan baginya. Sesampainya di rumah ia mendapati anaknya yang berusia 8 tahun yang duduk di kelas 2 SD sudah menunggunya di depan pintu rumah.  Sepertinya ia sudah menunggu lama.
“Kok belum tidur?” sapa sang Ayah pada anaknya.
Biasanya si anak sudah lelap ketika ia pulang kerja,  dan baru bangun ketika ia akan bersiap berangkat ke kantor di pagi hari.
“Aku menunggu Papa pulang, karena aku mau tanya berapa sih gaji Papa?”, kata sang anak.
“Lho, tumben, kok nanya gaji Papa segala? Kamu mau minta  uang lagi ya?”, jawab sang ayah.
“Ah, nggak pa, aku sekedar..pengin tahu aja…” kata anaknya
.
“Oke, kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp.400.000. Setiap bulan  rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi gaji Papa satu bulan berapa, hayo?!”, tanya sang ayah.
Si anak kemudian berlari mengambil kertas dari meja belajar sementara Ayahnya melepas sepatu dan mengambil minuman.
Ketika sang Ayah ke kamar untuk berganti pakaian, sang anak mengikutinya.

“Jadi kalau satu hari Papa dibayar Rp 400.000 utuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp 40.000 dong!”
“Kamu pinter, sekarang tidur ya..sudah malam!”
Tapi sang anak tidak mau beranjak. “Papa, aku boleh pinjam uang Rp 10.000 nggak?”
“Sudah malam nak, buat apa minta uang malam-malam begini. Sudah, besok pagi saja. Sekarang kamu tidur”
“Tapi papa..”
“Sudah, sekarang tidur” suara sang Ayah mulai meninggi.
Anak kecil itu berbalik menuju kamarnya.
Sang Ayah tampak menyesali ucapannya. Tak lama kemudian ia menghampiri anaknya di kamar. Anak itu sedang terisak-isak sambil memegang uang Rp 30.000.
Sambil mengelus kepala sang anak, Papanya berkata  “Maafin Papa ya! Kenapa kamu minta uang malam-malam begini.. Besok kan masih bisa. Jangankan Rp.10.000, lebih dari itu  juga boleh. Kamu mau pakai buat beli mainan khan?”
“Papa, aku ngga minta uang. Aku pinjam…nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajanku.”
“Iya..iya..tapi buat apa??” tanya sang Papa.
“Aku menunggu Papa pulang hari ini dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Satu jam saja pa, aku mohon. Mama sering bilang, kalau waktu Papa itu sangat berharga. Jadi aku mau beli waktu Papa. Aku buka tabunganku, tapi cuma ada uang Rp 30.000. Tadi Papa bilang, untuk satu jam Papa dibayar Rp 40.000.. Karena uang tabunganku hanya Rp.30.000,- dan itu tidak cukup, aku mau pinjam Rp 10.000 dari Papa” Sang Papa cuma terdiam.
Ia kehilangan kata-kata. Ia pun memeluk erat anak kecil itu sambil menangis. Mendengar perkataan anaknya, sang Papa langsung terdiam, ia seketika terenyuh, kehilangan kata-kata dan menangis..
Ia lalu segera merangkul sang anak yang disayanginya itu sambil menangis dan minta maaf pada sang anak..
“Maafkan Papa sayang…” ujar sang Papa.
“Papa telah khilaf, selama ini Papa lupa untuk apa Papa  bekerja keras. Maafkan Papa anakku” kata sang Papa ditengah suara tangisnya.
Si anak hanya diam membisu dalam dekapan sang Papanya.
=================================================
Saya ingin bertanya kepada Anda saat ini..
Sebetulnya, apakah alasan Anda untuk bekerja sangat keras dan mencari kesuksesan karir Anda?
Demi uang yang banyak? Atau sesungguhnya demi keluarga Anda?
Seringkali kita bekerja terlalu sibuk sehingga kita melupakan bahwa di akhir, keluargalah yang terpenting.
Tidak ada gunanya Anda sukses tapi pada akhirnya keluarga Anda telah meninggalkan Anda atau hubungan Anda dengan keluarga telah rusak.
Sesungguhnya, untung anak tersebut bicara dan komunikasi dengan orang tuanya untuk mencurahkan perasaannya.
Sering kali, anak cenderung diam dan bahkan tidak berbicara sama sekali tentang kondisinya kepada orang tua.
Ketika di tanya mereka hanya menjawab “Tidak ada apa-apa”
Bagaimana caranya Anda bisa menyelesaikan masalah jikalau Anda bahkan tidak tahu masalahnya dimana?
Hal ini sering kali terjadi pada anak dan khususnya terjadi pada anak di masa remaja.
Mereka merasa diabaikan/ditinggalkan, tidak di cintai, tidak dihargai oleh orang tuanya sendiri..
Pertanyaan berikutnya mungkin cukup berat untuk Anda..
“Menurut Anda, lebih baik Anda mencintai anak Anda atau Anak Anda merasa di cintai oleh Anda?”
Coba renungkan jawaban dari pertanyaan tersebut..

KATA MOTIVASI PILIHAN


  • TUHAN menaruhmu di “tempatmu” yang sekarang, bukan karena “KEBETULAN”Orang yang HEBAT tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamananMEREKA di bentuk melalui KESUKARAN, TANTANGAN & AIR MATA.
  • Ketekunan hadir bila apa yang anda lakukan benar-benar berasal dari hati anda.
  • “ribuan kilometer langkah dimulai dengan satu langkah”. Sebuah langkah besar sebenarnya terdiri dari banyak langkah-langkah kecil.
  • Kadangkala saat kita mencari kesempurnaan, yang kita dapat kemudian kekecewaan. Tetapi kala kita siap dengan kekurangan, maka segala sesuatunya akan terasa istimewa.
  • Semua orang sebenarnya memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Bangga atas prestasi itu wajar saja, tetapi jangan sampai membuat diri sendiri menjadi sombong maupun angkuh akan prestasi tersebut. Ingatlah, selalu ada yang lebih pintar dari kita. Dan kita juga masih perlu belajar dari kelebihan orang lain.
  • Membangun sukses kita dari hal-hal yang kita sukai. Dengan ketekunan & semangat tinggi, serta terus berusaha memperbaiki, maka apapun yang dikerjakan akan membuat waktu dan talenta kita lebih bernilai.
  • Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda, mereka hanya melakukannya dengan cara yang berbeda.

Senin, 30 September 2013

Adult Learning Within Human Resource Development

CHAPTER8
Pembelajaran Orang Dewasa dalam Pemberdayaan Sumber Daya Manusia

Disiplin ilmu pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) dan pendidikan orang dewasa (AE) keduanya melihat proses pembelajaran orang dewasa sebagai pusat teori dan prakteknya. Meski begitu, tujuan HRD dan AE berbeda, dan perspektif mereka tentang pembelajaran orang dewasa pun berbeda. Perbedaan intinya yang terkait dengan pengendalian tujuan dan tujuan yang belajar dewasa adalah perbandingan bekerja-organisasi dengan kontrol individu. Bab ini akan melihat lebih  dekat HRD, peran pembelajaran orang dewasa dalam HRD, dan pokok pembatasannya.
TUJUAN PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA MANUSIA
Beberapa pendapat ahli pemberdayaan sumber daya manusia dalam kesepakatan umum untuk tujuan mereka.
-          Kebanyakan mengambil posisi bahwa HRD harus fokus pada peningkatan persyaratan kinerja organisasi inangnya melalui pengembangan tenaga kerja organisasi (ASTDUSDL, 1990, Knowles, 1990, McLagan 1989; Swanson, 1995).
-          Lain percaya HRD harus fokus pada pengembangan individu dan pemenuhan pribadi tanpa menggunakan kinerja organisasi sebagai ukuran nilai (Dirkx, 1996).
Namun, itu adalah peningkatan kinerja yang dihasilkan dari HRD yang membenarkan keberadaannya.
Baik dari perspektif, pertanyaan kontribusi selalu datang ke dalam permainan.
-          Holton (1998) memberikan taksonomi sangat berguna terdiri dari “hasil kinerja” dan ”pendorong kinerja”‖ yang mengakomodasi kesenjangan antara yang berfokus pertama pada organisasi dan kemudian individu versus yang berfokus pertama pada individu dan kemudian organisasi. Dia memberitahu para ahli HRD untuk memperhatikan keduanya hasil kinerja dan pendorong kinerja.
Dengan demikian, kinerja organisasi, seperti layanan berkualitas tinggi disampaikan kepada pelanggan eksternal, dapat secara logis dihubungkan ke penggerak kinerja, seperti pembelajaran dan peningkatan proses (lihat Bab 17 untuk penjelasan yang lebih lengkap).
Ketika dipraktekkan dalam organisasi produktif, pemberdayaan  sumber daya manusia harus berusaha untuk memberikan kontribusi langsung ke tujuan utama organisasi. Organisasi host adalah sistem tujuan yang harus mencapai tujuan hidup yang efektif dan efisien. Karena itu, tanggung jawab HRD untuk fokus pada tujuan-tujuannya serta tujuan individu karyawan.
Pemberdayaan sumber daya manusia dapat dianggap sebagai sub-sistem yang berfungsi dalam sistem organisasi yang lebih besar. Sebuah organisasi didefinisikan sebagai usaha produktif yang memiliki misi dan tujuan (Holton, 1997).  Selain itu, suatu organisasi adalah sistem, juga didefinisikan dengan input , proses, output, suku cadang, dan hasil (Rummler dan Brache, 1995).
Saat ini  secara konsistn daftar bacaan  HRD berbicara tentang hubungan HRD dengan tujuan strategis organisasi (lihat, misalnya, Gill, 1995). Jika HRD adalah menjadi dihormati dan berguna dalam organisasi, ia harus memposisikan diri sebagai mitra strategis dan mencapai tingkat yang sama pentingnya dengan proses tradisional inti organisasi, seperti keuangan, produksi, dan pemasaran (Torraco dan Swanson, 1995).Untuk memperoleh pemahaman tentang tujuan dari sub-sistem HDR,  yang akan dicapai dari sistem yang lebih besar di mana untuk melaksanakan itu diperlukan pertimbangan.
Sumber daya yang langka dalam organisasi harus memperoleh dan dialokasikan, mungkin tidak ada yang lebih penting bagi keberhasilan perusahaan dari sumber daya manusia (Edvinsson dan Malone, 1997). Sebuah pengeluaran utama bagi kebanyakan organisasi dikaitkan secara langsung untuk pekerja, termasuk upah, tunjangan, dan HRD (Becker, 1993;. Noe et al, 1994). Meskipun demikian sumber daya manusia itu unik bahwa setiap orang memiliki perasaan, membuat rencana, dukungan keluarga, serta mengembangkan masyarakat, mereka dalam beberapa hal mirip dengan sumber lainnya: Perusahaan mengharapkan laba atas uang yang diinvestasikan oleh karyawan mereka (Cascio, 1987). Kecuali pekerja yang berkontribusi pada profitabilitas dan kelangsungan hidup organisasi, akan mengerti arti ekonomi untuk menginvestasikan uang di tempat lain. Bahkan dalam organisasi nirlaba, karyawan harus memberikan kontribusi yang bermakna  dalam pencapaian tujuan organisasi yang penting untuk kelangsungan hidup, meskipun tujuan-tujuan yang tidak dinyatakan dalam dolar keuntungan.
Tujuan peninjauan ini untuk mengetahui kenyataan  dasar kelangsungan hidup organisasi bukanlah untuk melukis gambaran yang tidak berperasaan tempat kerja di mana orang hanya roda dalam sebuah mesin mekanistik. Ada banyak contoh perusahaan yang memenuhi tujuan organisasi mereka yang juga berada di antara yang paling progresif dalam hal pengobatan karyawan dan hubungan (Levering dan Moskowitz, 1994). Tidak di manapun itu juga telah menunjukkan bahwa keberhasilan organisasi akan ada konflik langsung dengan kebahagiaan dan kesejahteraan karyawan.
Maka, Kinerja didefinisikan sebagai output sistem organisasi yang memiliki nilai kepada pelanggan dalam bentuk produktivitas disebabkan organisasi, proses kerja, dan / atau tingkat anggota. Menggunakan definisi ini, kinerja adalah sarana yang organisasi mengukur tujuan mereka. Kinerja dapat diukur dengan berbagai cara: tingkat pengembalian, siklus waktu, dan kualitas output yang mana ketiganya saling berkaitan. Selain itu, adalah penting untuk membuat perbedaan antara tingkat kinerja. Kinerja yang berlangsung dapat dipertimbangkan dalam rapat organisasi, proses, dan mutu individu.
Jika HRD adalah harus selaras dengan tujuan dan strategi organisasi, dan kinerja adalah alat utama yang tujuan dan strategi organisasi direalisasikan, maka berikut HRD yang harus pertama dan terutama berkaitan dengan mempertahankan dan / atau meningkatkan kinerja pada organisasi, proses dan mutu individu. Jika HDR adalah menjadi aktivitas nilai tambah perusahaan (bukan dari item baris biaya yang akan dikendalikan dan diminimalkan), maka praktisi HRD harus prihatin tentang kinerja dan bagaimana hal itu memungkinkan organisasi untuk mencapai tujuan mereka.
HRD DAN PENINGKATAN KINERJA
Bagaimana HRD dapat meningkatkan kinerja? Ada banyak kemungkinan di tingkat individu, proses, dan tingkat organisasi. Gambar 8-1 adalah matriks tingkat kinerja dan variabel yang dapat membantu dalam diagnosis masalah kinerja (Swanson, 1996, hal. 52).
VARIABEL KINERJA
TINGKAT KINERJA

Tingkat Organisasi
Tingkat Proses
Tingkat Individu
Misi/ Tujuan
Apakah misi / tujuan organisasi sesuai dengan realitas kekuatan ekonomi, politik, dan budaya?

Apakah tujuan proses memungkinkan organisasi untuk memenuhi misi / tujuan organisasi dan individu?

Apakah Jabatan ahli (professional) dan pribadi individu selaras dengan misi / tujuan organisasi?

Sistem Desain
Apakah sistem organisasi memberikan struktur dan kebijakan pendukung kinerja yang diinginkan?

Apakah proses yang dirancang sedemikian rupa untuk bekerja sebagai sebuah sistem?


Apakah individu menghadapi kendala yang menghambat kinerja pekerjaan mereka?

Kapasitas
Apakah organisasi memiliki kepemimpinan, modal, dan infrastruktur untuk mencapai misi / tujuan?

Apakah proses memiliki kapasitas untuk melakukan (kuantitas, kualitas, dan ketepatan waktu)?

Apakah individu memiliki kapasitas mental, fisik, dan emosional untuk melakukan?

Motivasi
Apakah kebijakan, budaya, dan sistem reward mendukung kinerja yang diinginkan?

Apakah proses menyediakan informasi dan faktor manusia yang dibutuhkan untuk mempertahankannya?

Apakah individu ingin melakukan apa pun?

Keahlian
Apakah organisasi menetapkan dan memelihara kebijakan dan sumber daya seleksi dan pelatihan?

Apakah proses pengembangan keahlian memenuhi tuntutan perubahan proses perubahan?
Apakah individu memiliki pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman untuk melakukan?

Gambar 8-1. Diagnosa kinerja sebagai acuan menjawab kemungkinan berbagai pertanyaaan.
© Richard A. Swanson 1996
Dalam setiap bagian memungkinkan adanya pertanyaan yang memungkinkan diagnosis kinerja, tetapi setiap bagian juga dapat berfungsi sebagai kerangka kerja konseptual untuk mengklasifikasikan intervensi kinerja.
Sebagai contoh, misi / tujuan variable  di tingkat organisasi menanyakan apakah misi dan tujuan organisasi sesuai berbagai realitas internal dan eksternal.  Jika tidak, maka kemungkinan besar kinerja dihalangi. Asumsikan bahwa misi dan tujuan organisasi tidak sesuai dengan realitas budaya dan ini mengakibatkan sub-dioptimalkan kinerja. HRD bisa mencoba untuk memecahkan masalah kinerja ini melalui intervensi terstruktur dalam beberapa cara, tergantung pada hasil analisis rinci. Sebuah proses dapat diletakkan di tempat untuk merumuskan misi dan tujuan yang mengakomodasi budaya organisasi. Di sisi lain, proses perubahan budaya dapat diterapkan untuk mengubah budaya sehingga lebih baik sejalan dengan misi dan tujuan organisasi. Contoh ini dan acuandiagnosis kinerja menunjukkan bahwa banyak hambatan kinerja, dan akibatnya banyak tantangan dan peluang untuk HRD untuk meningkatkan kinerja yang ada.
Ketika para pemimpin bisnis dan industri berbicara tentang nilai-nilai tinggi kompetensi inti untuk kehidupan perusahaan mereka, mereka berbicara terutama tentang pengetahuan dan keahlian yang sesuai di dalam  dan di antara 15 bagian dalam acuan diadnosis kinerja. Pembelajaran ini juga dapat dikategorikan sebagai pengetahuan umum, pengetahuan industri-spesifik, atau pengetahuan khusus perusahaan yang sangat penting untuk mempertahankan kinerja organisasi (Leonard-Barton, 1995, hal. 21).
Perhatikan bahwa pembelajaran orang dewasa memainkan peran penting di sebagian besar dari semua bagian dalam acuan yang ada. Hanya sampai ke titik melakukan pekerjaan dalam setiap bagian diagnostik sistem organisasi membutuhkan banyak yang harus dipelajari untuk memahami dan beroperasi di dalam dan di antara bagian-bagian tersebut. Misalnya, jika HRD adalah untuk mengubah budaya, maka dipastikan prinsip-prinsip dan praktek pembelajaran orang dewasa akan memainkan peran penting sebagai karyawan berkembang dan belajar norma-norma baru. Kebanyakan strategi perbaikan proses merangkul dengan membentuk  beberapa tim mandiri yang meneliti proses kerja mereka dan mempelajari cara-cara yang lebih baik untuk melakukan itu. Membangun kapasitas kepemimpinan adalah proses belajar. Dalam organisasi di mana inovasi adalah pendorong kinerja utama, belajar menjadi pusat untuk bertahan (Senge, 1990; Watkins dan Marsick, 1993). Hal ini tidak sulit untuk melihat bahwa ada kebutuhan potensial untuk pembelajaran orang dewasa dalam setiap acuan bagian diagnosis kinerja.
Salah satu peran strategis yang penting bagi HRD adalah untuk membangun organisasi strategi kemampuan-pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk mencari tahu keadaan sekarang dan untuk mengembangkan skenario rasional masa depan dan cara untuk menghubungkan mereka (Torraco dan Swanson, 1995). Pembelajaran orang dewasa, dari perspektif ini, sangat penting untuk mempertahankan kinerja sistem yang ada dan untuk memperbaiki sistem itu. Karena itu adalah modal intelektual organisasi yang mengarah pada keunggulan kompetitif yang berkelanjutan (Edvinsson dan Malone, 1997; HRD DAN KINERJA PERBAIKAN 169 Stewart, 1997). Pembelajaran orang dewasa menjadi strategi perbaikan organisasi yang kuat ketika tertanam dalam kerangka kinerja system analisis secara keseluruhan.
HRD DAN PEMBELAJARAN ORANG DEWASA
Masalah kontrol-organisasi dibandingkan individu-berguna dalam mengeksplorasi peran pembelajaran orang dewasa di HRD.  Cervero dan Wilson membantu dalam buku mereka, “Planning Responsibily for adult education: A Guide to Negotiating Power and Interests (1994), (Perencanaan Bertanggung Jawab untuk Pendidikan Orang Dewasa: Sebuah Panduan untuk Negosiasi Power dan Minat (1994), dengan mencatat bahwa AE (pendidikan orang dewasa) tulisan ini telah-difokuskan pada teknis, “bagaimana” keterampilan, sementara itu untuk mengandaikan beberapa area pementasan netral yang ideal di mana keterampilan ini akan dilaksanakan, dan yang mengejutkan tetap diam pada masalah yang sulit dari “untuk apa “dan “untuk siapa”.  Mereka pergi untuk berbicara lebih tegas, yang orang bisa memutuskan tujuan, isi, dan format program? Apakah itu selalu orang-orang dengan kekuatan yang paling? Apakah orang dewasa yang akan berpartisipasi dalam program ini, pimpinan lembaga mensponsori program, atau perencana sendiri? ‖ (Cervero dan Wilson, 1994, hal. Xii).
Jadi apa hubungan antara HRD dan pembelajaran orang dewasa? Swanson (1996) mendefinisikan pemberdayaan sumber daya manusia sebagai proses pengembangan dan / atau melepaskan keahlian manusia melalui pengembangan organisasi dan pelatihan personil dan pengembangan untuk tujuan meningkatkan kinerja pada organisasi, proses kerja, dan tingkat individu. McLagan (1989) mengatakankan definisi awal dari HRD hampir sama yaitu: pemanfaatan yang terintegrasi dari pelatihan dan pengembangan, pengembangan organisasi dan pengembangan karir untuk meningkatkan individu, kelompok, dan efektivitas organisasi. Dalam kedua definisi, jelas bahwa hasil dari SDM adalah peningkatan kinerja. Ini harus sama-sama jelas bahwa pembelajaran, pengetahuan dan keahlian adalah komponen inti dari HRD tapi tidak seluruh HRD.  
Pemberdayaan sumber daya manusia lebih luas dari pada pelatihan atau pembelajaran orang dewasa.   Ada intervensi HRD yang melibatkan lebih dari pelatihan atau kegiatan belajar, dan beberapa dapat memiliki komponen pendidikan yang direncanakan. Aspek dari HRD ini mengalir/meluas  “terlepas”  dari unsur definisinya. Misalnya, HRD mungkin terlibat dalam meningkatkan proses bisnis dimaksudkan untuk menghasilkan suatu proses bisnis baru direkayasa dan minor metode modifikasi pekerjaan yang  transparan untuk pekerja. Mereka bisa tidak memerlukan upaya pembelajaran formal untuk melaksanakannya.  Jika pelatihan yang diperlukan, itu akan menjadi bagian yang relatif kecil dari seluruh intervensi. Suatu cara untuk berpendapat bahwa pekerjaan HRD untuk meningkatkan proses melibatkan tindakan pembelajaran dan itu adalah pembelajaran orang dewasa. Bantahannya adalah bahwa hasil yang diinginkan adalah untuk meningkatkan proses dari pada belajar pada individu yang bekerja dalam proses bisnis.
Pernyataan-pernyataan ini tidak boleh ditafsirkan sebagai pendapat  bahwa disiplin AE adalah bagian HRD, itu salah. Meskipun pembelajaran orang  dewasa membutuhkan tempat di kedua HRD dan AE, keduanya sangat berkomitmen untuk pembelajaran orang dewasa, HRD dan AE adalah disiplin ilmu yg berbeda. Tempat keduanya terjadi persimpangan dalam pembelajaran orang dewasa. Apabila hasil belajar orang dewasa dan keputusan tentang proses belajar individu dibatasi oleh aturan dan persyaratan organisasi, pembelajaran orang dewasa adalah HRD. Ketika itu hasil pembelajaran orang dewasa dan aturan proses belajar serta persyaratan yang berada dalam individu, itu adalah AE. Perbedaan utama adalah dalam pembuat ide/batasan. Jika organisasi mempertahankan kewenangan untuk menyetujui atau menolak intervensi pembelajaran, kontrolnya adalah oleh organisasi, itu disebut dengan HRD. Untuk batasannya (point) bahwa kontrol terang-terangan dan bersama secara resmi, itu adalah proses pembelajaran  baik AE dan HRD (Swanson dan Arnold, 1996). Misalnya, Robinson dan Stern (1997) mengatakankan bahwa ilustrasi yang jelas dari dua elemen penting yang mendorong kreativitas perusahaan dan mendorong karyawan untuk mengontrol perjalanan belajar mereka. Mereka berbicara tentang “memulai aktivitas diri sendiri” (kegiatan yang dilakukan oleh seorang individu yang tidak diminta untuk melakukannya) dan “aktivitas tidak resmi” (kegiatan yang dilakukan oleh seorang individu selama periode waktu di mana ia terus bekerja pada perjalanan belajarnya tanpa ada pengakuan resmi atau dukungan) dan manfaat yg dimiliki organisasi adalah keuntungan dengan memungkinkan ini terjadi di kalangan para pekerja.
Dengan demikian, beberapa proses HRD dan intervensi tidak fokus pada pembelajaran orang dewasa. Dengan cara yang sama, AE tidak selalu terjadi dalam konteks organisasi untuk tujuan peningkatan kinerja.  Hasil AE bisa pertumbuhan pribadi, pengetahuan umum, atau bahkan hiburan.
 Bagi HRD, pembelajaran orang dewasa  berfokus pada pengembangan intervensi yang memiliki dua sifat: pertama konteksnya adalah organisasi, dan kedua hasil yang diinginkan adalah belajar pengetahuan dan keahlian yang akan berdampak pada tujuan kinerja organisasi utama.
Pembelajaran orang dewasa memfasilitasi dalam organisasi yang berorientasi pada kinerja  yg sering menimbulkan ketegangan antara asumsi yang mendasari praktek penddikan orang dewasa dan persyaratan kinerja organisasi. Bagi banyak orang, praktek pendidikan orang dewasa terbaik memungkinkan kontrol individu maksimum dan naik banding langsung kepada kebutuhan yang paling berarti bagi individu (Hiemstra dan Sisco, 1990). Apabila kebutuhan individu konsisten dengan kebutuhan organisasi, tidak ada ketegangan. Ketika kebutuhan individu dan tujuan yang tidak sejalan dengan persyaratan kinerja lembaga, dan organisasi adalah menyediakan pengalaman belajar yang diperlukan, ketegangan itu ada dan pasti menghasilkan beberapa derajat kontrol organisasi.
Untuk alasan ini, pembelajaran yang profesional di HRD harus menyeimbangkan praktik yang mengarah pada pembelajaran orang dewasa yang paling efektif dengan mereka yang akan mengakibatkan hasil kinerja. Ketika belajar diperlukan, kinerja akan dikompromikan jika prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa yang efektif tidak dimasukkan. Namun, belajar juga akan dikompromikan tanpa penekanan pada prinsip-prinsip kinerja karena kesempatan belajar kemungkinan akan dihentikan jika hasil kinerja tidak tercapai.
Profesional HRD yang efektif memiliki kemampuan untuk menemukan keseimbangan yang optimal dalam setiap situasi. Untungnya, sebagian besar situasi belajar yang sedang berlangsung tidak ada masalah. Dalam banyak kasus, kepentingan terbaik dari karyawan dan organisasi dapat dipenuhi pada waktu yang sama. Hal ini terutama berlaku dalam organisasi bahwa karir karyawan berhubungan dengan kemajuan kinerja sehingga hidup karyawan ditingkatkan  sebagai tanda kinerja yang dimiliki oleh organisasi meningkat.
Tetapi ada kasus lain di mana prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa tidak dapat sepenuhnya dijalankan. Pertimbangan perubahan organisasi, misalnya. Dapatkah sebuah organisasi besar memiliki cara dalam bertahan hidup yng  memungkinkan kebebasan individu untuk memilih apakah mereka ingin belajar cara baru untuk menjalankan organisasi? Hampir tidak. Dapatkah sebuah organisasi terus berinvestasi dalam program pembelajaran bagi karyawan yang tidak mengarah ke peningkatan kinerja dalam jangka panjang? Tidak.
Singkatnya, HRD memiliki perhatian besar untuk menciptakan organisasi yang lebih manusiawi. Namun, menurut definisi, HRD harus memastikan bahwa kebutuhan kinerja terpenuhi dari perbaikan organisasi. Pada titik tertentu, hal ini kemungkinan akan menyebabkan beberapa adaptasi dan kompromi dari prinsip inti pendekatan andragogi. Efektifitas penerapan prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa di HRD memerlukan praktisi untuk menjadi nyaman dengan, dan bahkan memeluk, ketegangan antara pembelajaran orang dewasa dan prinsip-prinsip kinerja.
PEMIKIRAN DASAR DARI PENGENDALIAN INDIVIDU DALAM BELAJAR SENDIRI
Salah satu ide yang paling populer di AE adalah bahwa individu ingin memiliki kontrol atas pembelajaran mereka berdasarkan tujuan pribadi mereka dan pembelajaran yang akan meningkatkan sebagai hasilnya. Idenya adalah bahwa hasil yang lebih baik terjadi ketika pelajar memegang kendali seluruh tahap belajar. Ada kontroversi berhubungan dengan ide ini banyak peserta didik banyak ingin memegang setiap kontrol dan menanganinya sendiri.
 Sejak tahun 1980 ada diskusi tentang merangkul self-directed learning (belajar mandiri) sebagai teori pemersatu dan tujuannya untuk disiplin AE. Bahkan salah satu pendukung terkemuka, Stephen Brookfield (1988), mengakui bahwa self-directed learning adalah jauh lebih kompleks daripada pertama kali diusulkan, dan bahwa dorongan di AE merangkul self-directed learning didorong oleh sebagian pencarian disiplin ilmu untuk identitas dan teori pemersatu.
Inti diskusi ini bukan untuk memasuki perdebatan AE tentang self-directed learning. Memang harus diakui bahwa asumsi inti Andragogi tidak menaikkan pembelajar diri yang mengarah ke tingkat tinggi  sama seperti yang telah diusulkan oleh banyak teori AE dan para praktisi. Andragogi menunjukkan bahwa orang dewasa memiliki konsep diri yang bertanggung jawab atau kehidupan mereka sendiri dan mengharapkan orang lain memperlakukan mereka sebagai mampu pengarahan diri sendiri (lihat Bab 4). Pendidikan orang dewasa menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran harus mengembangkan kemampuan belajar mandiri pada orang dewasa (Brookfield, 1986). Konsep diri yang paling prinsip dalam teori pembelajaran orang dewasa secara konsisten telah bingung dengan tujuan humanisme demokratis AE bahwa semua orang dewasa menjadi diri yang mengarahkan. Yang pertama merupakan karakteristik dari orang dewasa, yang terakhir tujuan untuk belajar. Ini tidak boleh ditafsirkan untuk mengatakan bahwa tujuan AE salah, melainkan bahwa prinsip belajar mandiri inti konsep diri harus dianggap terpisah dari tujuan dan tujuan AE. Ini adalah yang terakhir yang palsu dibuat HRD terlihat tidak konsisten dengan prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa. Praktek pemberdayaan sumber daya manusia secara umum selaras dengan gagasan andragogi yaitu konsep-independen-diri,  tapi jelas tidak berbagi tujuan dan tujuan AE.
Karena HRD berfokus pada hasil kinerja, pentingnya kontrol pembelajar dipandang sebagai sekunder oleh sebagian besar profesional di HRD. Reaksi AE  terhadap kinerja fokusnya terletak pada kekhawatiran bahwa perasaan dan nilai manusia sebagai individu diabaikan oleh terlalu banyak penekanan pada hasil dasar. Dan, ada bukti bahwa belajar atau meningkatkan kemampuan untuk belajar, merupakan hasil berharga dalam dan dari dirinya sendiri dan bahwa organisasi yang mensponsori akan menguntungkan secara nyata(Robinson dan Stern, 1997). Dengan demikian, batasan kadang-kadang palsu ditarik antara mereka yang melihat secara HRD sebagai terikat pada tujuan bisnis dan fokus pada batasan dasar dan mereka yang ingin mengambil sikap yang lebih humanistik dalam hal ini. Bahkan, HRD memberikan kekhawatiran untuk kerja humanistik, memiliki pembelajaran orang dewasa sebagai salah satu komponen inti, tetapi juga mencakup teori kinerja organisasi. Kesenjangan ini tidak begitu luas beberapa akan menggambarkan mengapa hal itu terjadi.
TAHAPAN PEMBELAJARAN ORANG DEWASA BELAJAR PADA PROSES PERENCANAAN
Pembelajaran orang dewasa didefinisikan sebagai proses orang dewasa memperoleh pengetahuan dan keahlian. Selain itu, ide-ide bahwa (1) peserta didik umumnya ingin memiliki kontrol atas proses belajar mereka dan (2) pembelajaran meningkat sebagai hasilnya berasal dari AE. Teori belajar orang dewasa mengambil sikap yang lebih situasional pada kontrol bersama.
Hanya, apa saja isu seputar inti ide peserta didik mengendalikan proses belajar mereka sendiri? Sebuah kontradiksi yang ada antara yang ideal AE individu mengambil kendali pembelajaran mereka dan realitas keterbatasan dewasa dalam mengambil kendali atas pengambilan keputusan mereka sendiri. Bagian berikut membahas isu-isu praktis yang dihadapi HRD yang berkaitan dengan orang dewasa mengarahkan pembelajaran mereka sendiri pada kebutuhan, penyusunan, pelaksanaan, dan tahap perencanaan evaluasi.
Gambar 8-2 memberikan kerangka untuk diskusi ini. Ini menunjukkan empat tahapan proses perencanaan pembelajaran orang dewasa dan cincin luar teori. Keempat fase tersebut adalah:
 ● Kebutuhan. Tentukan apa belajar diperlukan sehingga untuk mencapai tujuan.
● Membuat. Menciptakan strategi dan sumber daya untuk mencapai tujuan pembelajaran (s).
● Menerapkan. Menerapkan strategi pembelajaran dan menggunakan sumber belajar.
● Evaluasi. Menilai pencapaian tujuan pembelajaran dan proses mencapai itu.
Pengendalian Pembelajar dewasa dalam Proses Perencanaan Pembelajaran mereka

                                                                                                       
















                                                                                                                                 




© Richard A. Swanson, St Paul, MN 1996
Gambar 8-2. Pembelajar dewasa mengontrol proses belajar mereka sendiri.
Keempat fase berfungsi sebagai kategori atau lensa digunakan untuk mencari apa yang diketahui tentang peserta didik mengontrol proses belajar mereka sendiri.
Orang Dewasa Tentukan Sendiri Kebutuhan Belajar mereka
“Siapa yang butuh apa, seperti yang didefinisikan oleh siapa?”‖Adalah cara yang indah untuk meringkas isu penilaian kebutuhan dalam kaitannya dengan mengontrol isu. Pada tahap kebutuhan, orang dewasa yang menunjukkan kontrol sepenuhnya akan menentukan pembelajaran kebutuhan yang diperlukan untuk mencapai tujuan pribadi mereka Tujuan. Ide kontrol pada tahap penentuan kebutuhan sebaiknya diperiksa melalui perspektif empat jenis pembelajaran:
Tipe Pembelajaran                                                     Tempat/Tingkat Kontrol
Pembelajaran Tak sengaja                                         Tidak ada kontrol
Belajar Mandiri                                                          Kontrol oleh Pembelajar
Pembelajaran Mediasi                                               Kontrol bersama antara peserta didik
dan otoritas eksternal
Pembelajaran Otoritas                                                           Wewenang dikendalikan (organisasi
atau individu)
 

Meskipun ada keterbatasan dalam kontrol pembelajar, Pentland (1997) menemukan bahwa bagian atas empat alasan mengapa orang dewasa memilih untuk belajar sendiri semua yang berhubungan dengan ingin mempertahankan kontrol dari proses belajar. Dalam lapisan ini, penentuan kebutuhan belajar, komitmen awal untuk belajar, adalah fase dengan jumlah terbesar perhatian dalam literatur.
Penentuan kebutuhan perspektif pembelajaran dalam literatur AE terutama bersifat reaktif ketimbang strategis atau bahkan taktis. Profesional belajar digambarkan sebagai reaksi terhadap kebutuhan yang diungkapkan oleh para pembelajar dewasa. Kontrol berada pada peserta didik, dan pembelajaran yang professional merespon kebutuhan yang dirasakan tersebut. Ini mengasumsikan bahwa peserta didik (1) sepenuhnya menyadari kebutuhan nya, (2) dapat secara akurat menilai pembelajaran khususnya yang diperlukan, (3) cukup termotivasi untuk terlibat dalam pembelajaran yang diperlukan, dan (4) cukup termotivasi untuk terlibat dalam pembelajaran apapun yang dibutuhkan, bahkan jika mengancam. Brookfield (1986) bereaksi terhadap gagasan ini:
Untuk mengambil definisi kebutuhan peserta didik seperti biasa menentukan praktek yang tepat adalah untuk membuang fasilitator sebagai teknisi dalam modus konsumen. Hal ini untuk menghapus dari fasilitator semua penilaian profesional dan mengubah dia menjadi-knee-jerk pemuas kebutuhan konsumen. Pendidikan menjadi salah satu department store raksasa di mana fasilitator penyedia apa pun peserta didik (konsumen) percaya akan membuat mereka bahagia. (Hal. 97)
Perpanjangan ide ini menjadikan HRD melakukan pembelajaran / pelatihan yang menginginkan analisis antara kebutuhan karyawan dengan  pelatihan yang akan diadakan. Karyawan disurvei seperti apa pelatihan yang mereka inginkan dan kemudian pilihan pelatihan yang memperoleh suara terbanyak yang digunakan sebagai dasar untuk penawaran saja. Perkembangan terkini dalam melakukan survei tersebut tingkat rendah melalui komputer dan sistem pengumpulan data elektronik lewt udara telah memberikan kecanggihan, dalam prakteknya ini tidak cukup dan / atau tidak kompeten. Survei semacam ini dapat menjadi salah satu elemen penting dalam proses analisis kebutuhan suara, tetapi tidak proses itu sendiri.
Kelemahan mendasar dengan pendekatan ini adalah bahwa tidak ada perhatian besar yang diberikan kepada individu, proses kerja, atau organisasi. Itu tidak bererti. Strategi suara rakyat hampir tidak memerlukan keahlian profesional pada bagian dari mereka yang menjalankan proses dan memungkinkan mereka untuk bersembunyi di balik jubah demokrasi. Di sisi positif, kekuatan fundamental dari pendekatan ini adalah yang memberikan kesempatan untuk berpartisipasi, bahkan jika pada tingkat minimum. Diberi kesempatan tersebut, keberatan diminimalkan dan motivasi meningkat bahkan ketika alternatif tidak populer yang diajukan.
Kenyataannya adalah bahwa pendekatan ini tidak efektif untuk meningkatkan kinerja (Swanson, 1996). Karyawan kadang-kadang hanya ingin berhubungan dengan kinerja nyata untuk memperbaiki kebutuhan. Sering, ini bukan karena ketidaktahuan karyawan, tetapi hanya fakta bahwa mereka tidak memiliki keahlian, informasi, atau waktu untuk benar menganalisis kebutuhan mereka. Keinginan mereka adalah tebakan terbaik mereka, tetapi tidak akurat. Peningkatan kinerja sering membutuhkan perencanaan bersama dan, kadang-kadang, seorang analis eksternal. Meskipun hal ini mungkin menciptakan ketegangan awalnya sebagai kontrol digeser ke organisasi, orang dewasa sering menjadi cukup nyaman dengan itu ketika mereka menyadari bahwa memberikan beberapa kontrol pada akhirnya akan memungkinkan mereka untuk melakukan pekerjaan mereka lebih baik dan dengan demikian mendapatkan bentuk lain dari kontrol.



Orang Dewasa Membuat dan Menerapkan Pembelajaran Mandiri
Tahap kedua dari proses perencanaan pembelajaran orang dewasa adalah menciptakan strategi dan sumber daya untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tahap ketiga adalah menerapkan strategi belajar dan menggunakan sumber belajar.
Rosenblum dan Darkenwald (1983) menyimpulkan dari penelitian eksperimental mereka bahwa motivasi yang tinggi dapat menyebabkan kepuasan yang tinggi dan prestasi tanpa keterlibatan perencanaan peserta.
Jika ini yang terjadi, satu penafsiran bisa jadi bahwa keterlibatan di fase kebutuhan sangat penting untuk tujuan motivasi dan keterlibatan pelajar serupa di fase lain tidak begitu penting. Ini juga bisa menjadi alasan mengapa ada begitu sedikit literatur perencanaan yang berkaitan dengan menciptakan dan menerapkan fase selain dalam proses teknik instruksional untuk melibatkan pelajar. Tanpa masalah kontrol, mudah untuk melihat bahwa teknik ini pada membuat dan menerapkan fase menggunakan pendapat  inti Andragogi sambil menghindari pertanyaan mendasar kontrol.
Literatur lain yang relevan AE difokuskan pada pengendalian pelajar dari penciptaan dan pelaksanaan tahap perencanaan masih kurang. Kebanyakan kesimpulan harus dibuat dari studi terkait dan dari pembelajaran kontrol bersama dimediasi antara pelajar dan otoritas eksternal (biasanya instruktur).
Misalnya, efek peserta didik dewasa 'konsep diri dan pendapat mereka tentang isi pada saat mereka terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran telah dipelajari. Klasik Spelman dan Levy (1966) mengatakan bahwa studi yang berkaitan dengan konsep diri orang dewasa 'ketidakberdayaan dan dampak distorsi(pengubah) itu pada pembelajaran mereka. Dalam penelitian ini, perokok berat lebih banyak belajar pengetahuan medis dari pada bukan perokok, tapi secara signifikan belajar tentang hubungannya dengan kanker paru-paru dari pada  yang bukan perokok. Perokok, merasa relatif tidak berdaya dalam konteks mereka kecanduan merokok dan konsekuensinya, pada akhirnya belajar sedikit tentang kanker paru-paru. “Membebaskan pengetahuan” tidaklah efektif.
Dalam nada yang lebih penuh harapan, bagian dari (1959) teori Tolman purposive behaviorisme menjelaskan harapan dalam konteks pengalaman. Tolman menunjukkan bahwa orang dewasa belajar di mana tujuannya dan bagaimana untuk sampai ke sana. Jadi,  wajar bahwa untuk berpikir ada perpaduan antara tujuan antara organisasi dan anggota dan sarana (penciptaan dan pelaksanaan) untuk mencapai tujuan itu menjadi relatif mudah.
Bisa jadi keputusan pada self-directed learning membuat dan menerapkan fase menghasilkan motivasi yang tinggi, pertumbuhan minimal, dan kepuasan yang tinggi. Dengan demikian, sebuah kumpulan teori untuk self-directed learning adalah bahwa mengejar pendapat orang dewasa untuk membuat dan menerapkan  belajar yang mudah-resiko rendah, kenyamanan dari pada pertumbuhan. Kekhawatiran dilema kontrol HRD profesional karena mereka berjuang untuk memenuhi tujuan organisasi, menentukan isi dan metode program, dan berusaha untuk sepenuhnya melibatkan peserta didik.
Brookfield (1988) menyoroti dilema ini: “Untuk seorang fasilitator harus sepenuhnya mengabaikan kebutuhan peserta didik dan ekspresi dari preferensi sombong dan tidak realistis. Tapi itu hanya membimbing kearah yang salah karena fasilitator untuk sepenuhnya menekan ide-ide sendiri mengenai kurikulum berharga atau metode yang efektif dan memungkinkan peserta didik dikontrol penuh atas ‖ini (hal. 97). Ketika datang untuk membuat dan melaksanakan tahapan perencanaan teori dan praktek pembelajaran, kontrol bersama antara otoritas eksternal atau instruktur dan peserta didik adalah fokus utama dari pada belajar pengarahan diri sendiri. Dalam Model ini, pendidik profesional melibatkan peserta didik dan potensi peserta didik dalam fase create sehingga untuk membangun motivasi dan masyarakat dan untuk mempromosikan validitas pengalaman dan bahan. Pada tahap pelaksanaan, pengendalian bersama dapat mengambil berbagai bentuk, termasuk evaluasi formatif, pembelajaran tim, dan instruksi sebaya.
Orang Dewasa Mengevaluasi Pembelajaran Sendiri
Tahap keempat dari proses perencanaan pembelajaran orang dewasa adalah evaluasi, yang didefinisikan sebagai-koleksi sistematis bukti untuk menentukan apakah perubahan yang diinginkan sedang berlangsung ‖ (Swanson, 1996, hal. 26). Sebelum membahas pelajar dewasa dalam mengendalikan evaluasi pembelajaran mereka sendiri, sangat penting untuk memisahkan pebelajaran  yang mana mereka telah dikendalikan sampai tahap ini dari pembelajaran yang telah dikendalikan oleh orang lain sampai saat ini.
Dengan asumsi pelajar telah ditahan dan dieksekusi oleh kontrol untuk tahap ini, pelajar harus mengajukan pertanyaan evaluasi, ”Apa koleksi sistematis bukti yang perlu dilakukan untuk menentukan apakah perubahan yang saya inginkan  terjadi? ‖ Pertanyaan lanjutan adalah, “Berdasarkan bukti yang dikumpulkan, untuk itu apa gelar perubahan yang diinginkan?”‖ Pertanyaan difokuskan pada hasil belajar atau evaluasi sumatif, bukan proses kerja terhadap hasil belajar atau evaluasi formatif.
Literatur evaluasi pembelajaran  adalah berhati-hati mencatat pengukuran langsung hasil dibandingkan proxy, atau terkait, tindakan. Misalnya, ukuran langsung dari pengetahuan yang diinginkan, dan / atau hasil belajar keahlian akan membutuhkan instrumen untuk langsung mengukur perubahan. Ukuran tidak langsung dari pengetahuan mungkin untuk bertanya pada diri sendiri atau peserta jika mereka pikir mereka belajar banyak atau apakah mereka puas dengan pembelajaran mereka. Tindakan tidak langsung memiliki validitas yg sangat sangat dipertanyakan. Penelitian telah menunjukkan bahwa peserta peringkat pembelajaran mandiri tidak berhubungan dengan pembelajaran yang sebenarnya (Alliger dan Janak, 1989; Alliger et al, 1997;.. Dixon, 1991) Meskipun peringkat diri pada umumnya dapat diandalkan (konsisten), mereka umumnya tidak dipercaya sebagai ukuran yang akurat (valid). Selanjutnya, peringkat peserta dapat dengan mudah meningkat dengan teknik yang dipengaruhi oleh instruktur (Swanson dan Fentress, 1976).
Jadi, jika pelajar dewasa bergantung pada proksi langkah-penilaian diri diantisipasi hasil-kemungkinan besar mereka akan membuat kesimpulan yang salah berdasarkan data yang tidak valid. Parahnya lagi, jika profesional belajar, melayani sebagai sumber daya untuk proses pembelajaran orang dewasa, bergantung pada persepsi ramping dan perasaan tentang perubahan yang diinginkan memiliki terjadi (tindakan bahkan lebih tidak langsung), masalah tersebut diperparah. Contoh-contoh praktek evaluasi sangat dipertanyakan mengandalkan sumber data sekunder persepsi dilaporkan dalam literatur (lihat Cervero dan Wilson, 1994, hlm 60-61, 86-87, 111-113).
Para pembelajar dewasa, ingin mempertahankan kontrol atas proses evaluasi sambil mendapatkan data yang valid, akan, dalam kebanyakan kasus, harus mencapai luar referensi internal nya untuk mendapatkan evaluasi data yang rasional. Memperoleh tindakan langsung pembelajaran pengetahuan dan keahlian-dari tes formal maupun hakim ahli akan menjadi alternatif yang paling mungkin. Dalam banyak alam hobi pengembangan pribadi, kelompok kepentingan memberikan tindakan eksternal keterampilan melalui kompetitif menilai (misalnya, pameran mobil, cap menunjukkan, dance competition, dll). Pada tingkat kurang mengancam, ahli melayani sebagai mentor dapat memberikan evaluasi serupa.
Dari segi humanistik  literatur evaluasi telah memiliki ketahanan terhadap sumatif, evaluasi hasil. Format tampilan evaluasi adalah evaluasi yang harus diagnostik dan memiliki tujuan untuk meningkatkan pembelajaran, bukan hanya menentukan apakah perubahan yang diinginkan terjadi. Evaluasi formatif dipandang sebagai umpan balik dan umpan-maju antara berbagai tahapan pembelajaran. Sekali lagi, tujuan dari evaluasi formatif adalah untuk menjadi bagian dari proses belajar, bukan untuk menilai drive terhadap kinerja organisasi dan tuntutan kompetensi dewasa di tempat kerja. Selain itu, dikendalikan oleh organisasi, bukan individu. Fungsi pemberdayaan sumber daya manusia di dunia organisasi yaitu menuntut hasil dan menilai hasil.  Manajemen atau bekerja tim kemungkinan akan menjadi mitra penuh dalam tahap evaluasi hasil daripada peserta didik belajar. Singkatnya, teori pembelajaran orang dewasa memberikan nasihat untuk HRD di setiap tahapan proses perencanaan:

Praktek                               Tahapan
 Butuh                         Libatkan peserta didik dalam fase ini untuk mendapatkan motivasi
yanglebih tinggi.
Jangan berharap kebutuhan yang dilaporkan sendiri untuk menjadi
akurat untuk individu atau organisasi.
Buat                            Libatkan peserta didik dalam fase ini untuk mendapatkan validitas tinggi
dalam strategi pembelajaran yang dipilih.
Melaksanakan           Libatkan peserta didik dalam fase ini lebih baik memediasi
pembelajaran yang sebenarnya.
Evaluasi                     Libatkan peserta didik dalam fase ini untuk mendapatkan integrasi yang
lebih tinggi refleksi diri dan pengetahuan dan keahlian sedang dicari.
 


KESIMPULAN
Menjelajahi kesenjangan antara penelitian dan praktek adalah peran utama untuk praktisi reflektif di HRD (Swanson dan Holton, 1997). Panggilan untuk bertindak adalah untuk menerapkan praktik terbaik terkenal dan untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan metode untuk menilai kebutuhan belajar valid, membuat dan menerapkan strategi valid untuk mencapai tujuan pembelajaran, dan melakukan penilaian yang valid pembelajaran. Upaya ini harus diarahkan pada kebutuhan organisasi serta orang-orang dari pemain individu.
Gagasan bahwa tujuan dari HRD adalah atau seharusnya peningkatan kinerja ini tidak berarti diterima secara universal oleh praktisi atau peneliti di lapangan. Beberapa berpendapat bahwa pembinaan belajar atau kapasitas untuk belajar adalah hasil yang berharga dalam dan dari dirinya sendiri dan menganggap bahwa organisasi yang mensponsori logis akan menguntungkan. Dengan demikian, garis kadang-kadang ditarik antara mereka yang melihat secara HRD sebagai terikat pada tujuan bisnis dan berfokus pada kinerja dan orang-orang yang ingin mengambil sikap yang lebih humanistik dalam hal ini. Dikotomi ini dapat disebut perdebatan kinerja-versus-learning sebagai masalah kenyamanan (lihat Swanson, 1995; Watkins dan Marsick, 1995).
Perdebatan ini, seperti banyak orang lain, didorong oleh delineasi sering disalahartikan dari sisi yang berlawanan. Setelah pemeriksaan lebih dekat, kedua belah pihak mungkin memiliki lebih banyak kesamaan daripada yang pertama diusulkan. Di  satu sisi, mereka yang mengikuti orientasi kinerja HRD tidak melakukannya dalam upaya untuk menyangkal martabat dan nilai karyawan. Mereka juga tidak menyangkal bahwa belajar adalah komponen penting dari kinerja. Tujuan kinerja yang berfokus HRD hanya untuk memastikan bahwa proses HRD dalam organisasi memberikan kontribusi terhadap tujuan sistem organisasi di mana ia beroperasi. Ini tidak selalu berarti suatu gaya manajemen yang otoriter. Beberapa mungkin berpendapat bahwa mengabaikan masalah kinerja itu sendiri tidak manusiawi dan tidak pengertian tenaga kerja. Meskipun kinerja organisasi tidak menjamin keamanan kerja, kinerja organisasi yang buruk menempatkan pekerjaan pada risiko serius. Di sisi lain, orang-orang di sisi belajar dari perdebatan tidak begitu naif untuk berpikir bahwa tujuan organisasi dan kinerja tidak relevan dengan HRD. Justru sebaliknya, mereka dilihat sebagai inti, tapi belajar itu tidak selalu langsung terkait dengan bottom line dari sebuah organisasi.
Dari perspektif HRD, pembelajaran orang dewasa, ketika dipraktekkan dalam organisasi produktif, harus berusaha untuk berkontribusi secara langsung bagi kemajuan tujuan tuan rumah organisasi. Organisasi host adalah sistem tujuan yang harus mengejar tujuan hidup yang efektif dan efisien. Karena itu, tanggung jawab HRD untuk fokus pada tujuan organisasi serta tujuan individu.

PERTANYAAN RENUNGAN

8.1 Diskusikan bagaimana kedua disiplin pendidikan orang dewasa dan pemberdayaan sumber daya manusia terhubung ke pembelajaran orang dewasa.
8.2 Dari pengalaman Anda, bagaimana pembelajaran yang berhubungan dengan kinerja? Bicaralah dengan kinerja pada berbagai tingkatan (individu, proses kerja, dan organisasi).
8.3 Apa posisi umum yang Anda berhubungan dengan gagasan orang dewasa mengontrol pembelajaran mereka sendiri?
8.4 Diskusikan relatif mudah dan kesulitan orang dewasa mengendalikan berbagai tahapan
pembelajaran (perlu, membuat, melaksanakan, dan mengevaluasi).