Impian Untuk Desaku Tercinta
(Desa Pandan Lagan, Kec. Geragai, Kab. Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi)
Terkadang telalu
banyak impian yang ingin ku capai membuat aku hanya terlena dengan angan-angan
mimpiku saja tanpa melakukan sesuatu untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Galau,
Gelisah, Gundah, Gulana,.. itulah perasaan yang ku rasakan setelah beberapa
minggu aku resmi mendapatkan gelar Master Pendidikan di salah satu Perguruan
Tinggi di Bandung.
Saat itu di
kampung ku sedang dilanda kabut asap yang pekat. Akhirnya aku memutuskan untuk
pulang kampung untuk menghilangkan perasaan yang tak menentu itu. Segunung
rencana-rencana untuk mewujudkan mimpiku ku bawa ke kampung halaman dengan niat
memajukan desaku menjadi desa yang sadar akan pentingnya pendidikan dan membuat
masyarakatnya gemar belajar. Ataupun suatu saat nanti desa ku bisa menjadi
salah satu desa percontohan di provinsi Jambi dalam menjalankan pendidikan
nonformalnya.
Memang benar,
yang nama nya memulai itu paling sulit karena melawan diri sendiri. Ada rasa
malas, takut, gak pedean, masyarakat nanti mikirnya macem-macem dan banyak lagi
pikiran negatif menyerang dalam diriku. Penyakit yang paling bahaya itu adalah
SOMBONG, merasa mampu dengan kemampuan sendiri danmerasa paling pintar sehingga
menganggap diri sendirilah yang bisa melakukan segalanya tanpa perlu meminta
bantuan kepada orang lain ataupun orang terdekat walaupun sekedar saran.
Penyakit itu sempat menjangkit di diriku dan akhirnya aku pun stress sendiri,
padahal ada orang tuaku yang lebih banyak memiliki pengalaman. Akhirnya akupun
mulai membuka diri dengan mereka dengan menceritakan maksud dan niat yang ingin
aku wujudkan untuk desaku ini.
Diluar dugaanku,
ya Allah... selama ini ternyata aku terlalu angkuh.. L
Ayah dan ibu
sangat mendukung apa yang ingin aku lakukan, berbagai masukan dan saran mereka
berikan kepadaku yang juga membuka mata hati dan pikiranku... aku terharu.
Akhirnya tepat
tanggal 1 Oktober 2015, aku mulai menjalankan program ini di mulai dari
anak-anak usia dini dan sekolah dasar dan aku beri nama “Rumah AsaKu” dengan
niat Lillahitaala untuk mewujudkan masyarakat gemar belajar. Siapa partner ku?
itulah yang sulit ku temukan karena aku ingin mereka adalah pemuda-pemuda yang
aktif dan memiliki rasa peduli terhadap pendidikan. Saat ini mungkin yang
menjadi partnerku adalah si bungsu “Bella”.
Hari pertama,
baru ada 6 anak yang belajar, 2 orang AUD dan 4 orang usia sekolah dasar.
Kegiatan belajar bersama ini mengambil waktu bermain mereka sebelum mereka
mengaji sorenya. Kegiatan ini bukan mengambil waktu bermain mereka melainkan mengarahkan
cara bermain mereka menjadi bermanfaat sehingga aku menamakan kegiatan ini
Bermain sambil Belajar yang dilaksanakan mulai pukul 14.00-16.00 setiap
harinya. Dan hari-hari berikutnya anak-anak sendiri meminta untuk diadakan
belajar juga pada pukul 10.00-12.00 ketika sekolah mereka diliburkan karena
kabut asap.
Alhamdulillah... Bahagia rasanya ketika sedikit demi sedikit
mimpi-mimpi ku mulai terlaksana meskipun baru seujung kuku.
Kegiatan yang
kulakukan ini tanpa paksaan agar anak-anak harus mengikuti kegiatan ini tapi
atas keinginannya sendiri dan dorongan dari orang tua mereka tentunya. Metode
yang kuberikan yang utama adalah membaca dengan diseling kegiatan bermain dan
hitungan dasar. Aku memilih membaca menjadi fokus utama karena anak-anak usia
sekolah dasar disini masih banyak yang masih mengeja dalam membaca sehingga
untuk menjadikan mereka gemar membaca haruslah membuat mereka lancar membaca
terlebih dahulu.
Tidak terasa
kegiatan ini telah berjalan selama 1 bulan, dan anak-anak yang ikut bergabung
pun mulai bertambah dengan berbekal informasi dari satu anak ke anak yang lain.
Bismillah.. Lihatlah beberapa kegiatan kami ini kawan, dan doakan semoga apa
yang kami semua impikan bisa tercapai.. aamiin J