Kamis, 22 Mei 2014

KITA DALAM SUATU MASA... SPS PLS ’13 adalah KELUARGA.. (Part 1)

INTRODUCTION

Lebih kurang setahun yang lalu kita bertemu, saling kenal satu sama lain dari berbagai suku bangsa di Indonesia dan satu persatu dari mereka pun ada yang pergi meninggalkan keluarga baru ini karena berbagai kepentingan.. awalnya keluarga kami ini berjumlah 17 orang, namun 3 diantaranya (Rabbana, M.arif, dan Bu Linda) pergi dan menyisahkan kami yang 14 orang ini sebagai Agen Pembaharu bagi pendidikan di masyarakat..
Kita adalah satu... kita adalah saudara... walaupun berbeda status, suku, karakter, dan visi namun kita tetap solid satu sama lainnya... untuk itu saya dengan bangga sekali ingin mengenalkan saudara-saudara saya yang luar biasa (dari yg sepuh sampai yg bontot, hehe...  :P)

1.  Dino Mulyono
     Batik, batik dan batik merupakan baju yg hampir setiap kuliah di pakai oleh alumni PLS UPI angkatan ’03 ini. Kang Dino biasa kami menyapanya, asli sunda dan tinggal di Cimahi, Dia merupakan bapak dari 1 anak yang sangat luar biasa, selain kuliah dia juga dosen di salah satu sekolah tinggi yang tersohor di cimahi, kalau sudah kehabisan pertanyaan atau gak ada yang bisa menanggapi saat kuliah kang dino lah sang penyelamat layaknya “Super Hero” . Kami bangga bisa mengenal dia yang memiliki wawasan luas, santun dan berwibawa.

2. Shomedran (15 Mei)
     Kak Somed berasal dari Bengkulu, alumni PLS UNIB ’06 ini juga telah memiliki anak (azzam) yang lucu dan istri yang sangat supel, keluarga kecil mereka sering ikut kumpul kalau lagi acara kelas. Sebelum melanjutkan kuliah pascasarjana, dia juga sempat mengajar (dosen) UT di Bengkulu. Sosok dia merupakan bapak yang bertanggung jawab terhadap anak dan istrinya dengan membawa mereka hijrah dari Bengkulu ke Bandung. Oh iya kak Somed juga mendapatkan Beasiswa BPPDN dari Dikti sehingga biaya kuliah pun Grastisss..

3. Ema Sumiati (9 Agustus)
      Bararewel... yah.. orang asli Bandung ini bawelnya minta ampun.. tapi baiikkk.. :D Teh Ema juga Alumni PLS UPI ’07.  Dia adalah sosok kakak perempuan yang dewasa dan mengayomi di kelas kita walaupun bawelnya banyak. Datang telat ah.. udah biasa. Yang paling senang dia suka bawa jajanan ke kelas karena pasti cepat larisnya (yaiyalah Gratiss..). Selain kuliah dia juga nyambi d PKBM dan Online Shop. Hobinya jalan-jalan, belanja dan bawa cemilan. Dia adalah sosok wanita Pekerja Keras.

4.  Risa Santosa (5 Januari)
   Ya.. ya.. nanti ya.. bla..bla..bla.. ya.. hmm itu sering kami dengar di dalam kelas ketika kak Risa ngomong... :D Dia alumni PLS UNJ ’06, asalanya dari Bogor dan yang sangat mengharukan sekali dia juga perjalanan PP Bogor-Bandung menggunakan Motorcycle mungkin Bogor-Jakarta juga gitu kali yaa?!.. ckckckk selain kuliah dia juga ngasdos d kampus lamanya di Jakarta. Orangnya sabar dan lembut banget kalau ngomong dan dewasa serta sangat hemat (katanya uang beasiswa di depositoin semua tuh buat modal kawin,, hehehe).

5. Muhammad Asri (4 April)
      Apakareba.. Baji baji (eitss jgn sampe keseleo jg Baji - -an.. hihiihi)...  Asri alumni PLS UNM ’08 katanya sih dari Makasar.. Suka berfilsafat dan rajin membaca (mungkin yaa..) terkenal dengan orang yang keras dan hobi berantem karena asal daerahnya dan mencoba merubah diri menjadi lembut dengan hijrak ke bandung (ini kata dia yaa.. J). Selain itu dia juga barengan sama dosen kesayangannya melanjutkan studi di pascasarjana UPI.

6. Sandra Permana (1 Mei)
      Banten, kalau mendengar kota itu pasti selalu dikaitkan dengan Debus dan mistik... yups.. dari sana lah dia berasal. Sandra adalah alumni PLS UNTIRTA ’06, kata mama Peny dia paling gagah diantara kaum adam (bikin yang lain pada keki.. hahaha mungkin mama Peny kurang tidur waktu liat dia.. hihi).. sosok yang tegas, wawasannya luas,  suka beretorika (blaa..blaa..blaa), aktivis politik dan organisasi..

7. Peny Nugrohowati (16 Maret)
      Tinggal di Cileunyi arah-arah dekat ke Jakarta gitu katanya, tp ngomongnya medoG Jawa banget.. hehe dan ternyata dia hanya perantau saja di Jakarta. Peny alumni PLS UNJ ’08, dia anak pertama dari satu saudara (Tunggal maksudnya.. hihi). Dia adalah sekretaris di kelas kami. Liat Peny ingat Jepang, mungkin Jepang adalah Negeri Impian yang ingin sekali dia kunjungi, semua berbau Jepang dia sukai, mulai dari Ghibli movies, music Japanese, ect..  kami doakan semoga cita-citanya belajar ke negeri Sakura cepat terealisasikan.. aamiin (:
  
8. Saktika Rahma Fajarwati (1 September)
  Santai wae lah.. Keberuntungan adalah prinsip hidupnya.. dan memang benar keberuntungan selalu berpihak pada dia saat belum ngerjain tugas dosennya gak masuk dan banyak lagi yang lain. Tika berasal dari Majalengka, dia alumni PLS UPI ’08, kalau udah liat makanan atau jajanan pasti pengen di beli dan bilang eenaakk... ckckck. Awal april 2014 dia menikah, sering banget bilang lg diet tapi badannya aahhh.. susah ahh ngomongnya.. mungkin karena hidupnya tambah Bahagia.. :D

9. Lili Dasa Putri (10 Maret)
    Masak... masak... masak.. (aq lg aq lg..) haha.. setiap ada makan-makan bareng di kosan dialah juru masaknya... (emang enak sihh J) hobinya masaak ya sudah seperti Bundo Kanduang.. gadis minang ini adalah lili, alumni PLS ’08 UNP. Dia adalah teman seperjuangan saya hijrah ke bumi siliwangi ini. Keahliannya menagih dan menghitung uang menjadikannya bendahara di kelas kami. Kalau mau jalan-jalan dan makan-makan kelas siap siap lah uang di kantong akan lenyap bagi yang nunggak bayar Kas.. hahaha. Sosok yang rajin, perhatian dan terkadang suka pusing sendiri.

10.  Ani Safitri (8 April)
     Universitas Ibnu Khaldun Bogor tempat dia bekerja, selain itu dia juga alumni dari universitas yang sama angkatan ’08 dan aktivis dari berbagai organisasi. Ani adalah cewek yang perfeksionis, taat aturan, seriosa sekali dan pribadi yang tertutup (habisnya jarang kumpul-kumpul bareng sihh,, hehe). Oh iya ani juga berbakat banget jd MC dan bahkan udah sering ngisi acara dimana-mana (suaranya bagus...) bisa didenger kalau lagi presentasi di dpan kelas.

11. Arif Rahman Hakim (17 April)
    Tingginya hampir 2 meter kali yaaa... (jangkung banget.. hihi). Arif berasal dari Karawang yang terkenal dengan Joged karawang (JUPE n DEPE) hehe. Alumni PLS UNJ’08 ini juga ngasdos seperti Kak Risa di UNJ. Cowok berkacamata ini kemana-mana membawa lemari berjalan (tas ransel) yang isinya lengkap banget mulai dari parfum, tisu, buku-buku, ect. Yang membuat tasnya berat berton-ton... selain itu dia juga sangat eksis dalam Media Sosial.. (apa-apa update.. bentar-bentar update.. hihi) (:

12. Muhammad Irfan Hilmi
    Nah ini baru presiden pro-rakyat (kata kang dino).. irfan adalah ketua angkatan kami.. kenapa begitu? Yaa biar lebih mudah akses ke dosen-dosennya karena irfan kesehariannya jg bekerja di Lab Jurusan PLS UPI. Dia adalah alumni PLS UPI ’08 satu angkatan dengan tika, asalnya dari Sumedang. Sosok yang baik (suka bawa makanan kalau pulang kampung..hihi), bijaksana, tenang, dan selalu mengambil keputusan atas kesepatakan bersama walaupun dia adalah ketua. Walaupun terkadang teledor (pelupa) mungkin karena terlalu sibuk, hehe.  

13. Faiz Noormiyanto (21 Oktober)
    Bro..broo..broo... semua orang di panggilnya Bro. (mungkin agak lemah dalam menghafal nama orang.. hihi). Faiz yang biasa dipanggil Mas bro oleh teman-teman  berasal dari kudus (asal lelek kebon.. hihi). Dia adalah alumni dari PLB’08 UNS solo. Ngakunya nyasar ngambil jurusan PLS yang gak linear dengan jurusan sebelumnya gara-gara Beasiswa BPPDN. (tapi itu Cuma alibi.. padahal dia senang bisa ketemu kita-kita di PLS. haha). Sosok yang peduli terhadap kaum disabilitas dan juga seorang penerjemah bahasa isyarat di seminar-seminar yang pesertanya Tuna Rungu.

14. Mega Nurrizalia (27 Maret)
     Finaly... tiba di saya (mega) sosok yang biasa-biasa saja yang hanya ingin memiliki banyak teman..  saya berasal dari Jambi (salah satu provinsi di pulau Sumatera,,hihi) alumni PLS UNP ’08 seangkatan dengan sahabat saya Lili, yaa.. kami berdua terkenal dari Padang. Saya sangat senang dan bahagia sekali berada di kelas ini, kenal dengan orang-orang hebat yang berasal dari daerah yang beragam. Suasana kekeluargaan yang sangat kental dan solidaritas tinggi sehingga membuat saya ingin menulis semua kenangan yang telah kita lalui bersama...

Itulah sosok 14 anggota keluarga kami SPS PLS UPI 2013... banyak cerita dalam kebersamaan kami ini baik dalam suka maupun duka... dan semuanya akan saya curahkan dalam tulisan selanjutnya... karena kalian semua begitu berharga untuk ku...


Bersambung...
Baris Depan (ki-ka): Tika, Saya (mega), Lili, Teh Ema
Baris Tengah (ki-ka): Kak Shomed, Asri, Arif
Baris Belakang (ki-ka): Faiz, Kang Dino, Peny, Irfan, Ani, Sandra, Kak Risa

Pengorbanan yang Mulia

Beberapa hari yang lalu.. seorang sahabat WG menelpon saya dan kami bercerita sangat banyak salah satu pembicaraan kami mengenai cinta yang tak harus memiliki dan sahabat saya ini bercerita sedikit tentang kisah cinta sahabat nabi Salman Al-Farisi dan kemuliaan hatinya. Kisahnya lengkapnya seperti ini:

Salman al Farisi adalah salah seorang sahabat Nabi saw yang berasal dari Persia. Salman sengaja meninggalkan kampung halamannya untuk mencari cahaya kebenaran. Kegigihannya berbuah hidayah Allah dan pertemuan dengan Nabi Muhammad saw di kota Madinah. Beliau terkenal dengan kecerdikannya dalam mengusulkan penggalian parit di sekeliling kota Madinah ketika kaum kafir Quraisy Mekah bersama pasukan sekutunya datang menyerbu dalam perang Khandaq.
Berikut ini adalah sebuah kisah yang sangat menyentuh hati dari seorang Salman Al Farisi: tentang pemahamannya atas hakikat cinta kepada perempuan dan kebesaran hati dalam persahabatan.
Salman Al Farisi sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mu’minah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai pacar. Tetapi sebagai sebuah pilihan untuk menambatkan cinta dan membangun rumah tangga dalam ikatan suci.
Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah, pelamaran.
Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang telah dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.
”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, girang Abu Darda’ mendengarnya. Keduanya tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abu Darda’ berbicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”
Abu Darda dan Salman menunggu dengan berdebar-debar. Hingga sang ibu muncul kembali setelah berbincang-bincang dengan puterinya.
”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
Keterusterangan yang di luar kiraan kedua sahabat tersebut. Mengejutkan bahwa sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya. Bayangkan sebuah perasaan campur aduk dimana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah  dan bertemu dengan gelombang kesadaran. Ya, bagaimanapun Salman memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya.
Namun mari kita simak apa reaksi Salman, sahabat yang mulia ini:
”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
Betapa indahnya kebesaran hati Salman Al Farisi. Ia begitu faham bahwa cinta, betapapun besarnya, kepada seorang wanita tidaklah serta merta memberinya hak untuk memiliki. Sebelum lamaran diterima, sebelum ijab qabul diikrarkan, tidaklah cinta menghalalkan hubungan dua insan. Ia juga sangat faham akan arti persahabatan sejati. Apalagi Abu Darda’ telah dipersaudarakan oleh Rasulullaah saw dengannya. Bukanlah seorang saudara jika ia tidak turut bergembira atas kebahagiaan saudaranya. Bukanlah saudara jika ia merasa dengki atas kebahagiaan dan nikmat atas saudaranya.
“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” [HR Bukhari]
SUBHANALLAH...